RESUM
KELOMPOK 4
KONSEP BUDHA DHARMA TENTANG KETUHANAN, ADHI BUDHA DAN BAKTI PUJA
Makalah ini disusun untuk memenuhi
salah satu syarat mata kuliah Hindu Buddha di Indonesia
Dosen : Siti Nadroh, M.Ag
Di susun oleh:
Mulyadi
Azis Rahmat Najib
Muhamad Rahmat Ramadhan
Ririn Novita Sari
Ali Zainal Abidin
Hendri
Jurusan perbandingan
agama
Fakultas ushuluddin
Universitas islam negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta
2015
2015
AJARAN BUDHA DHARMA TENTANG
KETUHANAN, PERKEMBANGAN KONSEP KETUHANAN, KONSEP ADI BUDHA, BAKTI PUJA.
A. Perkembangan Konsep Ketuhanan
Memang pada dasarnya seluruh
agama pasti memiliki seseuatu yang di puja atau tokoh yang di puja yaitu Tuhan.
Dengan itu tidak mungkin dalam suatu agama tidak terdapat penerangan terhadap
Tuhan atau konsep keTuhanan. Ada pun dalam agama Buddha ini tidak terdapat penjelasan
yang begitu rinci akan konsep keTuhanan di dalam kitab mereka itu atau sering
disebut dengan “Tripitaka” tidak dijelaskan secara detai akan sesosok tuhan
tersebut akan tetapi dalam kitab mereka membicarakan akan Nibanna, bagaimana
caranya agar kita bisa menuju pada Nibanna.
Banyak diantara para ahli agama
agama yang beranggapan bahwa agama Buddha itu bukanlah agama melaikan sebuah Falsafah
atau sebuah rumusan manusia dalam mencari kedamaian. Mingkin apabila kita
merujuk akan pendapat ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal. Mengapa. Kita
harus tahu tidak semua agama atau sebuah aliran kepercayaan bisa me namakan
atau menggambarkan Tuhannya dengan sifat sifat manusia.
Maka dalam agama Buddha Tuhan itu
tidak di pandang sebagai suatu yang Pribadi (personifikasi), tidak
bersifat Antropomorfisme (pengenaan ciri-ciri yang berasal dari
manusia), atau Antropopatisme (pengenaan pengertian yang berasal dari perasaan
manusia). Jadi pada dasarnya dalam agama Buddha itu ajaran tentang ketuhanan
mereka itu tidak bisa dinamakan atau tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran
manusia yang terbatas, karena dengan sendirinya nama itu akan memberi batasan
kepada yang tidak terbatas.
Dalam memahami akan konsep
ketuhanan agama Buddha, sebelumnya kita mesti tahu dulu bahwa di dalam
masyarakat umum terdapat dua pendekatan. Yang pertama itu, Tuhan itu di kenal dengan melelui bentuk manusia. Mungkin kita
sering mendengar akan kata kata seperti ini “Tuhan melihat umatnya” atau “Tuhan
mendengar doa umatnya” dsb. Yang kedua Tuhan
itu di kenal dengan sifat sifat manusia. Misalnya
saja, Tuhan marah, tuhan maha pengasih, tuhan penolong, tuhan adil, dsb.
Akan
tetapi dalam pemahaman konsep ketuhanan agama Buddha itu di tolak karena dalam
ajaran agama Budha dalam mengetahui sang pencipta itu harus menggunakan aspek Nafi atau penolakan atas segala sesuatu
yang dapat dipikirkan oleh manusia. Jadi pengertian akan Nibbana atau Kelepasan atau Tuhan itu tidak terlahirkan, tidak
menjelma yang tidak bersyarat, yang tidak berkondisi, dsb. Secara singkatnya
Nibanna atau Tuhan itu adalah Mutlak.
Jadi
pada dasarnya perbedaan pendekatan ini berhubungan dengan ketidak mampuan
manusia dalam menceritakan atau menjelaskan. Misalkan saja seseorang tidak
pernah mampu menceritakan akan nikmatnya dan enaknya buah durian apabila
seseorang tersebut tidak pernah mengetahui atau tidak pernah merasakan buah
durian tersebut.
Apabila
kita melihat kepada kepercayaan umat Hindu terhadap Shidarta Buddha Guatama itu
merupakan sebuah manisvestasi Tuhan itu sendiri, yang dimana dalam kepercayaan
mereka akan konsep Awatara atau Avatar. memang apabila kita melihat dari
pandangan umat Hindu seperti itu akan tetapi umat Buddha tidak seperti itu
Kita
tahu bahwa Tuhan itu tidak bisa di gambarkan tidak bisa dinamakan tidak biasa
di seupakan dan lain sebagainya seperti halnya keterangan yang diatas. Pada dasarnya dalam konsep pemahaman agama Buddha manusia
itu tujuannya pada Pelepasan yang hakiki,
yang dimana dalam pencapainya akan pelepasan tersebut harus melakukan
berbagai ujian atau syarat yang harus di tempuh.
B.
Adi Buddha
Kata
Adi Buddha ini sebernya hanya berkembang di Nusantara saja tidak di daerah yang
lain, yang di luarsana tidak terdapat penyebutan terhadap nama tersebut. Nama
tersebut merupakan sebutan bagi Tuhan umat Buddha yang dimana nama itu berasal
dari golongan aliran Mahayana dari aisvarika
yang dimana itu berasal dari nepal terus ke daerah jawa.
Pada
dasarnya Agama Buddha ini tidak pernah menamakan akan tuhanya, seperti yang
diatas mereka beranggapan bahwa tuhan itu tidak bisa digambarkan atau dinamakan
bahkan dibentukan, mereka menganut sistem Nafi. Indonesia merupakan Negara
Pancasila yang dimana harus tunduk pada Pancasila termasuk dalam konsep
keagamaan. Dinyatakan pada sila pertama “Ketuhanan
Yang Maha Esa”, bahwasannya Indonesia ini adalah negara ketuhanan yang
dimana dalam konsep keagamaan ini harus memiliki sesuatu yang di puja secara
jelas.
Maka
Agama Buddha yang berada di indonesia
itu harus memiliki sesuatu yang di sembah atau Tuhan yang jelas atau
penamaan terhadap tuhan. Karena di indonesia sendiri apabila suatu agama tidak
memilki sebuah konsep akan ketuhanan maka itu tidak dikatakan sebagai agama.
C.
Konsep Bhakti Puja
Kita
sering beranggapan bahwa ketika kita melihat umat Budha sedang berada di Vihara
maka kita bersepekulasi bahwa mereka itu sedang melakukan sembahyang. Mungkin
sebelumnya kita sudah mengenal akan kata sembahyang, yang dimana kata
sembahyang ini terdiri dari dua suku kata yaitu “sembah” arti menghormat dan
“Hyang” arti dewa. Apabila dalam arian sembahnyang seperti ini maka umat Budha
tidak melakukan sembahyang karena mereka tidak pernah menyembah atau
menghormati para dewa. Bukan berarti umat bbudha tidak mengakui akan dewa dewi.
Selain
itu juga umat Buddha itu tidak berdoa yang dimana dalam pemahaman Doa itu kita
selalu meminta akan pertolingan akan sesuatu, akan tetapi umat Buddha itu tidak
mereka bisa mencapai sesuatu itu dengan berbagai jalan yaitu dengan Catur Arya
Satyani yang kemudian dilanjutkan dengan delapan jalan tengah atau jalan menuju
kesunyataan.
Memang
dalam agama Buddha ini jarang sekali membahas akan sebuah konsep ketuhanan yang
begitu jelas akan tetapi kami sebagai penulis memilki anggapan bahwa tuhan umat
hindu yang sejatinya mungkin itu adalah Kesunyaataan tersebut kerana mereka
dalah hidupnya selalu memikirkan akan jalan tersebut.